Sabaknews.co|Tanjab Timur- Nama Ferdi Hazrian bukanlah sosok asing di dunia persepakbolaan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pemuda kelahiran Parit Culum, 12 Maret 1989 ini dikenal sebagai pribadi pekerja keras yang sejak kecil telah akrab dengan si kulit bundar dan kehidupan masyarakat akar rumput.
Kecintaannya terhadap sepak bola telah mengantarkan dirinya menjadi salah satu pemain yang pernah mengikuti PraPON mewakili Provinsi Jambi sebagai utusan dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dalam dunia sepak bola, Ferdi dikenal sangat menyukai nomor punggung 11, nomor yang baginya melambangkan semangat, kecepatan, keberanian, dan perjuangan tanpa henti di lapangan. Semangat itulah yang hingga kini terus ia bawa dalam kehidupan sosialnya di tengah masyarakat.
Namun perjalanan hidup Ferdi tidak berhenti di dunia olahraga. Kini, ia dikenal luas sebagai Ketua Tim Kecamatan Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Muara Sabak Barat. Di tengah kesibukannya, Ferdi aktif turun langsung ke lapangan menemui masyarakat kurang mampu, menjangkau anak-anak hingga ke pelosok dan pinggiran kabupaten yang berpotensi putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Dedikasinya dalam dunia sosial semakin terlihat saat ia turut aktif menyukseskan program Sekolah Rakyat, program pendidikan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia. Baginya, pendidikan adalah jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka masa depan generasi muda.
Rekan-rekan dan masyarakat mengenal Ferdi sebagai sosok yang sederhana, mudah bergaul, serta memiliki semangat tinggi dalam membantu masyarakat kecil. Ia tidak segan menyusuri jalan berlumpur, mendatangi rumah warga, hingga memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Kalau kita masih bisa membantu orang lain, jangan tunggu menjadi besar dulu untuk bergerak. Karena perubahan selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan hati,” ujar Ferdi dalam sebuah kesempatan.
Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa pemuda daerah mampu mengambil peran besar bagi masyarakat. Dari lapangan hijau hingga pengabdian sosial, Ferdi Hazrian menunjukkan bahwa semangat perjuangan tidak hanya tentang kemenangan dalam pertandingan, tetapi juga tentang menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Di akhir perbincangan, Ferdi juga menitipkan pesan kuat kepada generasi muda, khususnya anak-anak daerah agar tidak minder dengan keterbatasan dan keadaan ekonomi. Menurutnya, masa depan tidak ditentukan dari tempat seseorang dilahirkan, tetapi dari keberanian untuk terus bergerak, belajar, dan berjuang.
“Jangan pernah malu menjadi anak kampung. Banyak orang besar lahir dari desa kecil dan hidup sederhana. Yang menentukan masa depan bukan seberapa mewah tempat kita berasal, tetapi seberapa kuat kita bertahan dan terus melangkah,” ungkapnya penuh semangat.
Ferdi percaya pemuda harus hadir membawa perubahan, bukan hanya menjadi penonton keadaan. Semangat itulah yang membuatnya terus bergerak membantu masyarakat hingga ke pelosok daerah.
“Nomor 11 di lapangan hanya angka, tetapi semangat perjuangan di dalam diri harus terus hidup sampai akhir.”Tutup Ferdi sambil tersenyum dalam akhir perbincangan.(Red)

