Sabaknews.co|Tanjab Timur- Di tengah keraguan publik terhadap keberlangsungan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal tahun 2025, seorang perempuan di Provinsi Jambi justru memilih melangkah lebih awal. Namanya Novillya Dewi, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sapaan hangat, Bunda Novi.
Sosok perempuan tangguh, pekerja keras, sekaligus Bhayangkari ini kini menjadi perbincangan hangat di Jambi setelah dirinya dinilai sebagai salah satu pelopor awal pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis di daerah tersebut. Ketika sebagian pihak masih menunggu arah kebijakan pusat dan kepastian anggaran negara, Bunda Novi justru mengambil keputusan besar, memulai lebih dahulu.
Melalui Yayasan Nuansa Mitra Sejati yang dipimpinnya, dapur MBG pertama resmi diluncurkan pada 17 Februari 2025. Momentum itu menjadi perhatian publik karena dihadiri langsung oleh Gubernur Jambi dan berbagai unsur penting lainnya. Kehadiran pemerintah daerah dalam peluncuran tersebut menjadi simbol bahwa langkah yang diambil yayasan yang dipimpin Novillya Dewi bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan bagian dari dukungan nyata terhadap program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto.
Banyak pihak kala itu menganggap langkah tersebut terlalu berani. Sebab pada fase awal pelaksanaan program MBG, situasi memang masih dipenuhi ketidakpastian. Bahkan muncul berbagai spekulasi mengenai kesiapan teknis, kesinambungan program, hingga kekuatan anggaran negara untuk menopang program besar tersebut.
Namun Bunda Novi memilih tidak mundur.
Dalam wawancara eksklusif bersama redaksi, ia mengaku sejak awal dirinya percaya bahwa program makan bergizi untuk anak-anak Indonesia bukan sekadar agenda politik, melainkan investasi masa depan bangsa.
“Kalau ini untuk anak-anak dan masa depan generasi Indonesia, saya pikir tidak perlu terlalu lama menunggu. Harus ada yang berani memulai,” ujar Bunda Novi.
Keputusan itu ternyata tidak hanya menghadirkan dukungan, tetapi juga gelombang fitnah dan penggiringan opini. Nama Bunda Novi beberapa kali menjadi sasaran pemberitaan miring maupun serangan media sosial dari oknum tertentu yang diduga memiliki kepentingan ekonomi dan politik dalam program tersebut.
Namun perempuan yang dikenal tenang itu mengaku tidak ingin menghabiskan energi untuk membalas semua tudingan.
“Saya percaya kerja nyata akan menjawab semuanya. Kalau kita terlalu sibuk melayani fitnah, kita tidak akan pernah fokus membangun,” katanya.
Pernyataan itu seolah menggambarkan perjalanan yang selama ini ia jalani. Diam ketika dihujat, tetapi terus bergerak ketika banyak orang mulai ragu. Bahkan sejumlah kalangan kini menjulukinya sebagai “Perempuan Merah Putih MBG Jambi”, karena keberaniannya menjadi salah satu yang pertama bergerak ketika situasi masih penuh ketidakpastian.
Seiring berjalannya waktu, program MBG mulai menunjukkan kestabilan. Dukungan negara semakin jelas, regulasi mulai tertata, dan berbagai pihak pun mulai membangun dapur-dapur MBG di berbagai daerah. Namun publik Jambi tidak lupa bahwa di awal program yang penuh keraguan itu, ada satu nama perempuan yang memilih berdiri paling depan yaitu Novillya Dewi.
Kini, yayasan yang dipimpinnya terus mendapatkan kepercayaan dalam pengelolaan dapur MBG di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional. Kepercayaan itu menjadi bukti bahwa konsistensi dan keberanian mengambil langkah lebih awal akhirnya mendapatkan pengakuan.
Di tengah derasnya dinamika sosial dan politik, Bunda Novi menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus hadir dalam pidato besar atau panggung megah. Kadang pengabdian lahir dari dapur sederhana, dari keberanian memulai, dan dari keyakinan untuk tetap berjalan meski diterpa fitnah.
Dan dari dapur pertama yang diluncurkan pada 17 Februari 2025 itu, nama Novillya Dewi perlahan tumbuh menjadi simbol keteguhan seorang perempuan Jambi dalam mengawal harapan anak-anak Indonesia.(Red)

